Memilih dan dipilih memang hak setiap orang. Bukan menjadi
alasan ketika kita sebagai pemilih justru tidak menggunakan hak kita dengan dalih
tidak ada "pilihan" yang sesuai dengan harapannya. Apalagi bagi kita
yang bangga dengan status mahasiswa. Ada tidaknya kriteria yang kita inginkan
pada pilihan tersebut baiknya tidak mengambil jalan aman dengan memilih Golput
(Golongan Putih). Mungkin para Golput ini memiliki pandangan bahwa
"pilihan" yang mulai ramai disorot berbagai media tak ada yang
dianggapnya benar-benar baik seperti saat kampanye hingga terpilih menjadi
seorang pemimpin. Atau karena para Golput ini merasa satu suaranya takkan
merubah keadaan menjadi lebih baik hingga dia memilih Golput dan tak peduli
akan pilihan mana yang akan terpilh nantinya. Sikap Golput ini pun akan
dimintai pertanggung jawaban kelak di kehidupan selanjutnya. Coba bayangkan
jawaban apa yang akan kita berikan ketika pertanyaan itu terlempar saat hari
pembalasan itu tiba? Setidaknya, dengan kita tetap berpartisipasi memilih calon
pemimpin negeri ini, kita telah berusaha dengan satu suara kita untuk merubah iklim
di negeri ini menjadi lebih baik.
Ada sebuah cerita yang bisa kita ambil pesan moralnya
untuk melihat bagaimana bentuk usaha kita dalam menjalankan hidup yang
sederhana ini. Dalam cerita itu, ada seekor burung pipit yang berusaha dengan
paruh kecilnya mengambil air untuk memadamkan api yang membakar sebuah hutan. Ia
terus berusaha mengambil air sedikit demi sedikit dengan paruhnya, tetapi api
itu tak kunjung padam. Lalu datanglah seekor burung elang dan berkata bahwa perbuatannya
hanya sia-sia. Api itu terlalu besar untuk dipadamkan hanya dengan air yang ia
bawa dalam paruh kecilnya itu. Tapi burung pipit tak menyerah dan menjawab
perkataan burung elang bahwa walaupun mungkin perbuatannya hanya sia-sia,
setidaknya dia sudah berusaha melakuakan yang ia bisa dan kelak ketika burung
pipit dimintai pertanggung jawaban hidupnya, ia memiliki alasan tersebut selama
hidup di dunia.
Lalu bagaimana dengan kita yang notabenenya sebagai
makhluk yang paling sempurna yang Ia ciptakan, apakah tetap tenang saat yang
lain tengah berjuang? Apakah kita akan tetap berpangku tangan saat yang lain
tengah berperang?
Status kita sebagai mahasiswa hedaknya mampu menjadi
penggerak bangsa untuk melangkah lebih cepat agar semakin tak tertinggal dengan
negara tetangga, tetapi seringkali mahasiswa yang hanya sekedar mengejar nilai
akademik menjadi tidak peka dengan keadaan bangsa yang sangat menginginkan
pemimpin yang amanah. Ditangan kitalah negeri ini berharap. Meski hanya dengan
satu suara yang bisa kita berikan saat pemilu nanti, setidaknya kita telah
membantu bangsa ini dalam menemukan pemimpinnya yang berkualitas. Siapapun pilihan
kita nanti di kotak pemilu, pilihlah ia yang tidak terobsesi dengan jabatan
tapi juga tidak idealis dalam menjalankan perubahan. Jadilah pemilih yang
cerdas agar bangsa ini temukan pemimpin yang berkualitas.







0 komentar:
Posting Komentar